Budi Daya Ikan Air Laut Melalui Metode KJA Menjanjikan Keuntungan Yang Maksimal

BANGKA BARAT - Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kep. Bangka Belitung melakukan tinjauan lapangan dan verifikasi koperasi/kelompok calon penerima bantuan benih Kegiatan Dana Alokasi Khusus (DAK) paket percontohan budi daya laut, Rabu, (11/3).

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan alternatif usaha kepada anggota koperasi yang ada di Kabupaten Bangka Barat, melalui wirausaha budi daya ikan yang dapat dijadikan usaha andalan bagi nelayan jika nelayan sedang tidak melaut dikarenakan sedang musim angin barat maupun rusaknya alat tangkap. 

Tim dari Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Kep. Babel yang terdiri dari Kasi Perbenihan Ikan, Tomi Hamdani dan Pengawas Perikanan Bidang Pembudidaya Ikan, Suti Maryati  langsung menuju tiga lokasi Keramba Jaring Apung (KJA) yang terdapat di kawasan Parit Tiga Jebus, Bangka Barat, yakni Sungai Kampak, Pantai Bakit, dan Pantai Teluk Limau.

Saat melakukan verifikasi dan diskusi, Pengurus Koperasi Produsen Putra Samudera Desa Bakit, Rodiansyah mengatakan bahwa resiko usaha budi daya ikan ini adalah faktor alam dan faktor manusia. 

“Faktor alam di mana ketika terjadi musim barat dan badai, karena akan banyak keramba yang rusak. Tapi hal ini dapat diantisipasi dengan menempatkan keramba pada tempat yang terlindung dari ombak,” ungkapnya. 

Sedangkan faktor manusia adalah sering terjadi tindakan perusakan dan pencurian yang disengaja. Namun hal ini dapat diatasi dengan membangun rumah jaga dan adanya kerja sama dengan pihak pemuda setempat dan keamanan.

Pengawas Suti Maryati mengatakan bahwa, tujuan memberikan bantuan kepada kelompok/koperasi ini meliputi peningkatan produksi budi daya air laut, khususnya komoditas ikan kerapu, bawal bintang, dan kakap dan mendorong penguatan kelembagaan kelompok penerima bantuan.

“Berdasarkan data yang kami dapat bahwa panen kerapu pada 2018 sebanyak 1,1 ton dengan frekuensi panen dua kali dalam setahun dan untuk bidang pemasaran diambil langsung oleh Provinsi Kepulauan Riau/Bintan,” ungkapnya. 

Selain itu terjadi perkembangan di tahun 2020 yaitu KJA terdapat 66 petak dengan tebar benih ikan kerapu ukuran 7-8 cm sebanyak 700 ekor/petak. “Sungguh perkembangan yang fantastis,” ungkapnya.

Saat verifikasi lapangan, Kasi Tomi Hamdani mengatakan terdapat beberapa kelemahan yakni diantaranya keterbatasan ketersediaan bibit ikan sehingga usaha ini perlu didorong dan dibantu oleh pemerintah agar target produksi dapat mencapai hasil maksimal.

“Sesungguhnya peluang usaha budi daya ikan air laut melalui metode KJA ini sangat menjanjikan keuntungan, karena permintaan yang sangat tinggi ditambah harga yang cukup mahal adalah potensi untuk pasar ekspor yang terbuka lebar, semoga dengan keuletan dan kesabaran usaha ini akan berbuah hasil maksimal,” ungkapnya.

 

Penulis : Reni Pebrianti
Sumber : Dinas Kelautan...
Editor : Listya
Fotografer : Reni Pebrianti
Dibaca : 627 Kali