Dihadapan Ratusan Mahasiswa Gubernur Babel Beberkan Empat Permasalahan Lada, Yang Nomor 4 Gubernur Minta Segera Dioptimalkan

BOGOR - Pada tahun 2013, PDB yang diperoleh dari perdagangan lada adalah yang paling besar ke lima setelah kelapa sawit, karet, kopi, kakao dan kelapa, yaitu sebesar 342 juta USD atau 1,5 persen dari total PDB yang diperoleh dari subsektor perkebunan (Ditjenbun 2014).

Namun belakangan terjadi penurunan ekspor lada putih. Kondisi ini sejalan dengan penurunan produksi lada putih, terutama yang terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penurunan produksi lada putih mencerminkan adanya permasalahan dalam pengusahaannya yang tentunya memberikan dampak yang signifikan terhadap keberadaan komoditas lada putih Indonesia.

Di hadapan ratusan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), saat memberikan kuliah umum di IPB Bogor, pada Kamis (15/2/2018), Gubernur Kepulauan Bangka Belitung memaparkan perkembangan luas areal pertanaman lada selama beberapa tahun terakhir mulai bertambah. Hal ini terjadi sebagai bentuk respon masyarakat terhadap harga jual komoditi lada putih di pasar domestik, yang telah terintegrasi dengan harga pasar dunia.

Erzaldi menjelaskan, menurut data dari International Pepper Community (IPC) pada tahun 2014, Indonesia mampu menguasai 40% pangsa pasar dunia. Perkebunan lada dan produk turunannya masih sangat potensial untuk dikembangkan di Provinsi Bangka Belitung melalui penanganan secara komprehensif, sebagai upaya untuk mengembalikan kejayaan komoditi lada putih.

Sejumlah permasalahan mempengaruhi sistem agribisnis lada di Babel. Gubernur Babel Erzaldi membagi permasalahan tersebut menjadi empat bagian. Permaslahan pertama adalah permasalahan hulu. Pada permasalahan ini diketahui bahwa petani umumnya masih menggunakan bibit dari kebun sendiri atau pekebun lainnya, petani jugamengalami hambatan dalam memperoleh sarana, termasuk produksi yang dibutuhkan seperti pupuk dan lainnya. Selain itu lembaga yang terkait dalam pengadaaan sarana, produksi masih kurang berperan dan banyaknya alih fungsi lahan menjadi tambang timah dan kelapa sawit serta ketidakpastian harga di tingkat petani.

Permasalahan kedua adalah di lokasi perkebunaan itu sendiri, dimana diketahui budidaya lada berdasarkan pada kebiasaan dan turun temurun.Sebagian besar petani masihmenggunakan tajar mati, produktivitas masih rendah ditambah lagi serangan hama dan penyakit lada yaitu hamapenggerek batang, penghisap buah danbunga.

Permasalahan ketiga adalah permasalan hilir. Pada permasalahan ini, pengolahan lada masih tradisional (merendam, merontok, mengupas, menjemur). Belum ada standarisasi dan sistem manajemen mutu di tingkat petani dan belum ada diverensiasi produk, serta pemasaran lada dengan bargaining power petanimasih lemah.

“Permasalahan keempat adalah factor penunjang. Contohnya peran penyuluh masih belum maksimal dalam membinapetani. Selain itu peran lembaga keuangan dalam pembiayaan petani belum berfungsi dengan baik. Lembaga penelitian juga belum berperan dengan baik, sehingga belum optimalmenghasilkan bibit berkualitas,” papar Gubernur.

Penulis : Huzari/TKG
Sumber : Dinas Kominfo
Editor :
Fotografer :
Dibaca : 1.037 Kali