Dinkes Babel dan Dinkes Kota Sepakat Galakkan Gerakan Peduli TBC
PANGKALPINANG – Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang sepakat untuk menggalakkan Gerakan Peduli Tuberkulosis (TB). Hal ini disampaikan oleh kedua kepala dinas tersebut dalam kegiatan Peringatan Hari TBC Tahun 2018 yang diselenggarakan di Kantor Kecamatan Rangkui, Selasa (27/3).
“Kita harus melakukan satu gerakan peduli TBC. Ada dua gerakan yang harus digalakkan. Pertama, menemukan kasus TBC baru dan kedua, obati kasus TBC sampai sembuh,” tegas Mulyono.
Masih dikatakan Mulyono, di Indonesia, diperkirakan ada 1.020.000 kasus baru TBC dan baru sepertiga yang ditemukan dan diobati. Masih ada yang belum ditemukan atau sudah ditemukan dan diobati, tetapi belum dilaporkan. “Oleh karena itu, pada Hari TBC Sedunia ini, kita harus meningkatkan kepedulian seluruh lapisan masyarakat tentang pentingnya berobat sampai sembuh agar tidak menular pada orang di sekitarnya,” ujar Mulyono.
Jika tidak diobati secara maksimal, lanjut Mulyono, penyakit TBC ini bisa kebal dan pengobatannya akan lebih sulit. “Pengobatan TBC dilakukan minimal enam bulan tanpa boleh berhenti makan obat. Jika pengobatan enam bulan tersebut tidak lancar, yang bersangkutan menjadi penderita TBC resisten obat. Pengobatannya pun harus dilakukan selama kurang lebih dua tahun,” jelas Mulyono.
Menurut Mulyono, peran keluarga merupakan salah satu kunci utama suksesnya kesembuhan pasien. “Semangat dan kepatuhan pasien untuk minum obat ditentukan oleh dukungan keluarga. Libatkan dan jadikan keluarga dan pasien sebagai bagian dari program terutama yang terkait dalam peningkatan kepatuhan berobat pasien,” ujarnya.
Saat menyerahkan perlengkapan ketuk pintu secara simbolis kepada kader aktif di Kecamatan Rangkui, Mulyono berharap gerakan ketuk pintu dengan metode PIS PK ini dapat menemukan kasus TBC baru dan segera menindaklanjutinya melalui pengobatan. “Kita lakukan aksi TOSS TBC, Temukan Tuberkulosis, Obati Sampai Sembuh,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang, Ristum Alamsyah mengungkapkan bahwa kasus TBC di Kota Pangkalpinang masih tinggi. “Tujuh puluh lima persen dari penderita umumnya masih berusia produktif. Tentunya ini akan mengganggu kehidupan berkarya dan aktivitas lainnya. Dampak sosial juga luar biasa sekali, baik ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Yang memprihatinkan, respons masyarakat masih belum baik sehingga pasien bisa dikucilkan,” jelas Ristum.
Dipaparkan Ristum, dengan jumlah penduduk di Kota Pangkalpinang tahun 2017 sebesar 207.420 jiwa, capaian indikator angka temuan TBC sebanyak 456 kasus, dan pengobatan per seratus ribu penduduk sebanyak 188 kasus. “Laporan angka kesembuhan belum ada, tetapi harapan kami bisa mencapai 85 persen,” jelasnya.
Di hadapan camat dan lurah se-Kota Pangkalpinang, Ristum memastikan bahwa kasus TBC bisa disembuhkan jika diobati secara istiqomah. “Selain Dinas Kesehatan serta puskesmas dan pengelola program TB, peran serta masyarakat dan para aparatur sangat diperlukan. Dukungan moril dan spiritual sangat dibutuhkan untuk penemuan kasus TBC baru juga proses pengobatannya,” ujarnya.
Pada kegiatan yang sama, dilakukan pemberian penghargaan kepada pasien sembuh TBC RO Kota Pangkalpinang, dengan kisaran sembuh pada tahun 2014-2017. “Keberhasilan para mantan pasien TBC dalam menjalankan pengobatan dapat menjadikan mereka sebagai panutan dan motivator bagi pasien lainnya”, pungkas Ristum.