Gebyar SMK 2018, Budidaya Jamur Tiram Siswa SMKN 1 Pulau Besar
PANGKALPINANG—Sejumlah produk dari kreativitas siswa SMK di Bangka Belitung dipamerkan dan diperjualbelikan pada Gebyar SMK Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang digelar di Alun Alun Taman Merdeka, 13 s.d. 16 November 2018. Sedikitnya ada 21 stand pameran dari masing-masing sekolah berdiri di Alun Alun Taman Merdeka guna memamerkan produk dari siswa SMK.
Salah satu sekolah yang ikut memamerkan produk dari kreativitas siswanya adalah SMK Negeri 1 Pulau Besar, yang terletak di Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan. Sekolah ini memiliki dua program kompetensi yaitu Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH) serta Agribisnis Tanaman Perkebunan (ATP).
Sejumlah tanaman hias dipamerkan dan dijual pada gebyar tersebut. Sebut saja misalnya bibit tanaman jahe merah, stroberi, jeruk, serta beraneka jenis tanaman hias. Namun yang menarik dari produk yang dipamerkan dan diperjualbelikan adalah jamur tiram.
Jamur tiram atau dalam bahasa latinnya pleurotus ostreatus memang menjadi prospek yang menjanjikan jika digarap dengan sempurna. Maklum, untuk satu kilogram jamur tiram bisa dijual seharga Rp30.000.
“Saat ini hasil produksi jamur tiram produksi siswa baru kami pasarkan atau kami jual di sekitar lingkungan sekolah saja dan produksinya pun masih sedikit. Namun, tidak menutup kemungkinan akan kami pasarkan ke Pangkalpinang atau ke daerah lainnya di wilayah Bangka Belitung ini,” kata Kepala SMKN 1 Pulau Besar, Muhamad Fauzi di stand pameran, Selasa malam (13/11/2018).
Fauzi, panggilan akrabnya, juga paham kalau jamur tiram ini menjadi produk andalan dan menjanjikan. Untuk itu pihak sekolah terus mendorong para siswa agar membudidayakan jamur tiram ini. Harapan pihak sekolah, jika siswa sudah cakap tentang teknik budidaya jamur tiram yang mereka pelajari di sekolah, mereka bisa melakukan budidaya jamur ini di rumahnya sendiri. Bahkan kata Fauzi pihaknya pun mendorong para alumni untuk mandiri dan berwirausaha, membudidayakan jamur tiram.
“Kami tentunya mendorong agar para alumni untuk melakukan budidaya jamur tiram. Sebab kami pihak sekolah berkepentingan dan bertanggung jawab agar alumni SMKN 1 Pulau Besar bisa mandiri dan mengaplikasikan ilmu yang didapat, ya diantaranya dengan melakukan budidaya jamur tiram,” ujarnya.
Berbudidaya jamur tiram sebenarnya bukan pekerjaan sulit, asal yakin dan ditekuni dengan serius. Modal awal pun tak cukup besar dan bisa disiasati dengan pemngembangan secara bertahap. Kalaupun mengalami kegagalan pada tahap awal kiranya jangan berhenti sampai di situ, dan terus mencoba agar mendapatkan hasil maksimal.
Bahan untuk membuat Jamur tiram ini kata Fauzi, bersumber dari serbuk kayu, bekatul, kapur CaCo, dan air. Komposisi yang ideal seharusnya menghasilkan media tanam yang jika digenggam tidak mengeluarkan air.
Setelah diolah, dilakukan permentasi dalam wadah yang biasanya disebut baglog atau media tanam tempat menaruh bibit jamur tiram. Baglog ini disimpan dalam rak-rak dalam sebuah rumah yang disebut dengan Kumbung. Kumbung harus mempunyai kemampuan beradaptasi supaya suhu dan kelembaban selalu terjaga.
“Jika perawatan bagus, sekitar dua minggu sudah bisa dipanen,” kata Fauzi.
Bagaimana untuk prospek bisnis jamur tiram di Babel?
“Sangat menjanjikan,” katanya.