Ismed Inonu Paparkan Strategi Pemanfaatan Lahan Reklamasi Untuk Pertanian.

Balun Ijuk - Seminar nasional “reklamasi lahan pasca tambang guna mewujudkan pemberdaya potensi lokal” dihadiri oleh para mahasiswa se-Indonesia. Acara yang di gagas oleh Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung sangat bermanfaat bagi para mahasiswa yang memiliki rasa ingin tahun yang besar.

Dua nara sumber Dr Robin dan Dr Ismed Inonu, prodi Agroteknologi, wakil 1 rektor universitas  Bangka Belitung pun menyajikan paparannya dihadapan para peserta yang tampak antusias mengikuti jalannya acara.

Ismed, menyampaikan peran sektor pertambangan mineral di Bangka Belitung. Permasalahan tambang ada sisi positif secara ekonomis dan namun juga dampak negatifnya kepada lingkungan apabila tidak direklamasi dengan baik, seperti dampak negatif yang dihasilkan akan membuat kontur lahan yang menjadi tidak beraturan, kelerengan yang tergolong curam sehingga rawan erosi, penurunan kesuburan lahan, perubahan sifat fisik tanah, dampak penambangan terhadap air permukaan

Ia menjelaskan bahwa dalam Undang-undang  no 4 thn 2009, mengenai pertambangan mineral dan batubara, setiap usaha yang diberi izin wajib melakukan reklamasi.

“Setiap perusahaan memiliki kewajiban untuk melaksanakan reklamasi, dengan rencana reklamasi yang sudah dibuat sebelum melakukan pertambangan,” terangnya.

Untuk itu ada strategi pemanfaatan lahan bekas tambang yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian. Meskipun Ia mengakui tidak mudah membudidayakan pertanian di lahan bekas tambang namun bukan berarti tidak memungkinkan.

“Harus diperbaiki kualitas lahan, dengan penambahan bahan organik seperti pupuk kandang, kompos sampah, kompos TKKS, Penggunaan mikrobia menguntungkan, mikrozia, bakteri  yang sustainable,” terangnya.

Selain itu perlu dipertimbangkan dalam hal Pemilihan jenis /varietas tanaman. Dengan  mempertimbangkan nilai ekonomis dari tanaman tersebut, “apabila mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi dari pada tambang, tentunya masyarakat akan merasa rugi untuk membongkar kembali penanaman yang dirasa tidak memiliki keuntungan ekonomi,” terang Ismed.

Dengan mempertimbangkan kemampuan tanaman untuk mengatsi cekaman lingkungan terutama kekeringan dan logam berat di lahan bekas tambang, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk varietas yang benar-benar cocok.

Apabila mengalami akumulasi logam berat, Ismed tidak menyarankan untuk menanam tanaman yang edible (tanaman yang dapat dimakan). Hal ini dilakukan agar terhindar dari kemungkinan kerugian dalam mengkonsumsi hasil pertanian, namun lebih disarankan untuk menanam varietas tanaman industri.

Penulis : Khalimo
Sumber : Dinas Kominfo
Editor :
Fotografer : Khalimo
Dibaca : 410 Kali