Kemampuan Berbahasa Internasional Penting Untuk Sektor Pariwisata
Pangkalpinang – Organisasi non-profit kepemudaan terbesar di dunia AIESEC gelombang kedua di tahun 2018 kembali hadir dengan berbagai proyek yang mereka lakukan selama kurang lebih satu setengah bulan di Bangka Belitung, dan kali ini berfokus di Bangka Selatan.
Kehadiran para anak muda dari berbagai negara tersebut untuk memberikan dampak positif di masyarakat melalui pertukaran informasi dan pengetahuan dengan generasi muda, salah satunya adalah pengembangan kepemimpinan, pertukaran kebudayaan, dan berbagai proyek sukarela lainnya.
Pada hari Jum'at (31/08), tujuh orang pemuda dari enam negara (Belanda, Spanyol, Meksiko, Maroko, Mesir, India) tersebut menyampaikan paparan mengenai proyek yang mereka lakukan selama bermukim di Bangka Selatan dengan berbagai OPD seperti Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dan Dinas Komunikasi dan Informatika di Ruang Pantai Romodong Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Suharto menyampaikan terima kasih atas kehadiran para duta AIESEC di Bangka Belitung dengan berbagai dan masukan
"Input dari peserta AIESEC tersebut sangat baik untuk membangun dan membangkitkan potensi wisata di Bangka Belitung yang tentunya akan berdampak kepada roda perekonomian provinsi ini, " papar Suharto.
Menurut Suharto banyak sekali tantangan dalam pembangunan di Bangka Belitung untuk menuju perbaikan."Selama di Bangka Beliting mereka ditempatkan di Toboali, dan mereka harus memberikan saran dan masukan bagaimana membangun Bangka Belitung lebih baik lagi, " jelas Suharto.
Dalam paparan tersebut, Suharto juga mengatakan bahwa saran dari para pemuda AIESEC ini mengenai destinasi wisata yang sudah cukup bagus, dan mereka menyarankan supaya tersedia papan penjelasan (information board) dalam Bahasa Inggris untuk menarik wisatawan asing.
“Salah satu masukan dari mereka supaya dipasang papan penjelasan dalam bahasa Inggris di daerah destinasi wisata. Masukan dari peserta AIESEC ini sangat konstruktif untuk pengembangan destinasi wisata. Dan selanjutnya pemerintah daerah akan membuat papan informasi penjelasan mengenai sejarah batu belimbing dalam Bahasa Inggris karena ini yang dibutuhkan oleh para wisatawan,” kata Suharto.
Lebih jauh, bahasa Inggris atau bahasa asing merupakan salah satu faktor yang dapat menarik wisatawan. Untuk itu, Suharto berharap pemerintah dapat memberikan dukungan SDM untuk mengenalkan kepada masyarakat dan komunitas-komunitas yang sudah ada untuk dapat berbahasa internasional.
“Suka atau tidak suka, kita akan dituntut untuk mempelajari bahasa asing. Apalagi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah ditetapkan sebagai destinasi wisata, " tutup Suharto.