Mengapa Dimulai dengan Sholat Subuh, Ternyata Ini Menjadi Motivasinya
TOBOALI – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman tak lelah menjelaskan mengapa memulai aktivitas dengan melakukan Sholat Subuh terlebih dahulu. Rahasia tersebut dijawab Gubernur saat menunaikan Sholat Subuh di Masjid At Taubah, Toboali.
“Mengapa dimulai dengan Sholat Subuh? Agar dalam menjalankan aktivitas kita lebih bersemangat,” tegas Gubernur di depan jemaah Sholat Subuh, Jumat (2/3/2018).
Negara yang mensyiarkan subuh berjamaah, kata Gubernur, negaranya akan maju. Contohnya Negara Maroko, masyarakat Maroko makmur dan sejahtera. Presidennya hafidz, begitu juga dengan sembilan menterinya.
Ini membuktikan, jika berkelakuan Islami negaranya damai. Ia menambahkan, baru-baru ini yang sangat dahsyat adalah Turki. Lihat suasana subuh berjamaah di Turki dan Maroko.
“Kepemimpinan Erdogan, anak-anak muda berangkat sekolah dari masjid. Kalau kita sudah seperti itu, luar biasa,” harap Gubernur.
Sekarang ini Provinsi Kepulauan Bangka Belitung baru memulai. Menurut Gubernur Erzaldi, segala sesuatu harus dimulai. Rencanakan, namun jangan terlalu lama, sebab harus segera dimulai. Misalnya membangun masjid, harus segera dimulai dari peletakan batu pertama.
“Kembali ke Sholat Subuh. Kalau kita biasakan, ini ada energi dan semangat dan sudah diatur oleh Allah. Ada energi khusus, semangatnya beda. Jadikanlah suatu kebiasaan dan suatu saat kita susul Turki,” kata Gubernur dengan penuh rasa optimis.
Sebagaimana diketahui, perjalanan Natak Kampung kali ini cukup panjang. Sekitar pukul 11.31 hingga 12.30 WIB, rombongan menggelar Sholat Jumat di Masjid Al Munawar Kampung Padang. Usai salat Jumat, Gubernur kemudian berjalan kaki menuju Pondok Pesantren Ketua MUI Ustad Rosidi.
Berada di Pondok Pesantren Ketua MUI Ustad Rosidi, selain bersilatuhrahmi, Gubernur dengan pengurus pesantren memberikan bantuan untuk 25 anak yatim dan fakir miskin di Kampung Padang Toboali.
Perjalanan dilanjutkan, karena sekitar pukul 13.00 Gubernur akan menuju Kampung Teladan Rumah Pak Endai (Tokoh masyarakat sekaligus tokoh ulama di Basel yang sedang sakit). Setelah itu rombongan kembali menuju Pangkalpinang.