Panen Padi di Belitung Timur Berlangsung Meriah
MANGGAR – Panen perdana padi ume di Desa Lilalang Kecamatan Gantung berlangsung meriah pada Selasa (20/2) pagi. Para petani dan keluarganya tampak semangat mengetam padi.
Tak tampak arit apalagi peralatan modern dalam panen raya di atas lahan satu hektar milik Desa Lilangan tersebut. Semuanya menjaga tradisi, menggunakan alat tradisional dan kearifan lokal.
Meski hasil panen padi dinyatakan belum berhasil sesuai target namun tak menyurutkan semangat para petani ume untuk menanam lagi tahun depan. Bahkan lahan akan ditambah menjadi dua hektar.
“Paling banyak dua ton lah, hasil panennya. Kita memang salah penetapan waktu tanam kemarin,” ungkap petani sekaligus pemilik ladang padi, Nadi (66).
Nadi mengakui jika padi hasil panennnya banyak yang tidak berisi. Hal itu dikarenakan penanaman padi tanpa menggunakan pupuk, ditambah banyak terkena cuaca panas dan waktu tanam yang tidak tepat.
“Sebenarnya dak susah nanamnya namun yang sulit itu nentukan waktu tanam. Ini sudah gawe sejak kecil tanpa didampingi penyuluh,” ungkap Nadi.
Pria yang mengaku belum pernah mengenyam bangku pendidikan itu berharap masa panen selanjutnya pemerintah dapat membantu pemberian bibit, pupuk, dan pendampingan penyuluh.
“Kite coba lagi. Mudah-mudahan tahun depan lebih baik hasilnya,” ujarnya bersemangat.
Kepala Desa Lilang, Suparman mengatakan kegiatan padi ume bukan bertujuan semata-mata untuk mencapai hasil panen yang melimpah apalagi menambah surplus pangan di Kabupaten Beltim. Namun tujuan utamanya melestarikan adat dan menjadikan destinasi wisata Desa Lilangan.
“Percobaan dulu ini. Kita hanya ingin melestarikan adat bertani padi berume, tata caranya, adat istiadat serta kearifan lokal yang ada di dalamnya,” kata Suparman.
Suparman juga mengklaim jika tradisi padi ume di Desa Lilangan merupakan satu-satunya di Kecamatan Gantung, bahkan mungkin di Kabupaten Beltim. Tahun depan, ia tetap akan melanjutkan dengan sistem padat karya.
“Inikan hal yang unik, bisa jadi wisata baru. Tahun depan kita akan lebih banyak berdayakan masyarakat, karena kita tak ingin ada mesin semuanya tradisional,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Beltim Burhanuddin meminta agar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan segera dapat ikut membantu. Ia optimis jika ada campur tangan pemerintah hasil yang diperoleh akan lebih maksimal.
“Ini lah namanya sinegritas kerja. Dinas Pertanian membina petani, Dinas Pariwisata mengembangkan potensi wisatanya,” jelas Aan saapaan akrab Burhanuddin.
Aan menyatakan lahan ume nyaman untuk dikunjungi. Ia pun memuji Desa Lilangan yang jeli melihat peluang dan potensi desa.
“Masyarakat harus bisa memanfaatkan potensi yang ada di kampungnya. Kita kembangkan wisata-wisata unik seperti ini, jangan pantai melulu,” kata Aan.