Pernah Menguasai 40 Persen Pangsa Pasar Dunia, Muntok White Pepper Ingin Bangkit Lagi

BOGOR – Produksi lada Bangka Belitung sempat menguasai 40 persen pangsa pasar dunia. Angka tersebut berdasarkan data International Pepper Community (IPC) tahun 2014. Kini, berbagai kebijakan terhadap sektor ini diharapkan dapat membangkitkan kejayaan lada.

Menurut Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman saat menyampaikan kuliah umum di Kampus Institute Pertanian Bogor, perkembunan lada dan produk turunannya masih sangat potensial untuk dikembangkan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Agar kejayaan lada Bangka Belitung bisa bangkit lagi, perlu penanganan secara komprehensif. Sehingga lada putih khas Bangka Belitung kembali berjaya di pasar internasional. Sementara ini sudah terpetakan permasalahan sistem agribisnis lada.

“Permasalahan di hulu, petani pada umumnya masih menggunakan bibit dari kebun sendiri atau kebun petani lainnya,” kata Gubernur, Kamis (15/2/2018).

Petani juga masih mengalami hambatan untuk memperoleh sarana produksi yang dibutuhkan seperti pupuk serta masih kurang optimal peran lembaga-lembaga terkait dalam pengadaan sarana produksi.

Sebagai daerah yang mempunyai banyak potensi seperti bahan tambang timah dan perkebunan sawit, mengakibatkan banyak terjadi alih fungsi lahan menjadi tambang timah dan kelapa sawit. Minat petani menanam lada berkurang dikarenakan ketidakpastian harga di tingkat petani.

Itu semua merupakan persoalan di tingkat hulu. Menyinggung persoalan on farm,permasalahanya mengenai budidaya lada masih berdasarkan pada kebiasaan dan turun temurun. Sebagian besar petani masih menggunakan tajar mati, produktivitas masih rendah.

“Tanaman lada masih sering terserang hama dan penyakit lada seperti hama penggerek batang, penghisap buah dan bunga. Petani kesulitan mengantisipasi persoalan ini, dikarenakan harga pupuk anorganik masih tinggi,” jelasnya.

Sedangkan permasalahan di sektor hilir di antaranya, pengolahan lada masih tradisional seperti ketika merendam, merontokan, mengupas dan menjemur lada hasil panen. Selain itu masih perlu peningkatan standard dan sistem manajemen mutu di tingkat petani, belum ada diverensiasi produk serta pemasaran lada dengan bargaining power petani masih lemah.

“Permasalahan sistem agribisnis lada sektor penunjang yakni, perlu meningkatkan peran penyuluh dalam membina petani, perlu meningkatkan peran lembaga keuangan dalam pembiayaan petani, lembaga penelitian masih belum berperan dengan baik untuk menghasilkan bibit berkualitas,” paparnya.

 

Penulis : Huzari/TKG
Sumber : Dinas Kominfo
Editor :
Fotografer :
Dibaca : 239 Kali