Stunting Dapat Dicegah Melalui Pemberdayaan Masyarakat

PANGKALPINANG – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Melati Erzaldi menegaskan bahwa pencegahan stunting dapat dilakukan dengan cara memberdayakan masyarakat melalui keluarga. PKK sebagai mitra pemerintah berperan untuk menggerakkan masyarakat dan keluarga mengenai cara meningkatkan kualitas gizi.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Tim Penggerak PKK dalam acara Seminar Hari Gizi ke-58 yang diselanggarakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Hotel Soll Marina –Bangka Tengah Senin (19/2).

“Masalah utama stunting atau tinggi badan anak tidak sesuai usia terjadi akibat kekurangan asupan gizi. Gizi menjadi salah satu komponen yang harus dipenuhi dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, terutama pada periode seribu hari pertama kehidupan. Dimulai dari dalam kandungan ibu, gizi yang sehat dan berimbang harus mulai menjadi perhatian,” ungkap Melati.

Dalam seminar yang bertajuk Bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi ini, Melati mengatakan stunting menjadi ancaman besar bagi negara karena dapat mengganggu perkembangan otak pada anak balita. Prestasi anak dalam pendidikan akan menurun, yang pada akhirnya akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia.

Masalah stunting ini sendiri menjadi salah satu prioritas kelompok kerja (pokja) PKK. Menurut Melati, pokja III yang bergerak di program pangan dan pokja IV program kesehatan melakukan kegiatan terkait pencegahan stunting. Pokja-pokja ini tetap berintervensi dengan pokja I yang menangani program pola asuh anak dan remaja serta pokja II program pendidikan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mulyono Susanto menyebutkan beberapa faktor yang diindikasikan sebagai penyebab stunting. “Salah satu yang utama adalah pola asup yang tidak tepat. Seringkali ibu memberikan makanan kepada anaknya berdasarkan kesukaan dan pilihan anaknya, bukan berdasarkan kandungan gizi. Ketidaktahuan masyarakat ini menyebabkan pemberian asupan yang salah dan ini dilakukan secara terus-menerus sehingga berdampak gizi buruk,” ujarnya.

Mulyono mengimbau pelaksanaan program yang harus ditekankan dalam seribu hari pertama kehidupan. “Pemberian tabel penambah darah bagi ibu hamil, pelaksanaan inisiasi menyusui dini, dan pemberian ASI ekslusif dan makanan pengganti ASI secara tepat serta gerakan kadarzi. Oleh karena itu, perlu dilakukan sosialisasi guna meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat,” tuturnya.

Untuk mewujudkan Kesehatan masyarakat, Mulyono mengharapkan komitmen dan kerja bersama antara pemerintah, baik sektor kesehatan maupun nonkesehatan di tingkat provinsi, kabupaten/kota, serta swasta dalam pembangunan pangan dan gizi.

“Masalah gizi ini merupakan masalah kita bersama dan memerlukan koordinasi lintas sektoral. Kita dapat bersama-sama melakukan langkah strategis memperbaiki status gizi masyarakat dengan menurunkan stunting sebagai investasi bangsa untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi di dunia,” pungkas Muyono.

Selain Melati Erzaldi, pemberi materi dalam seminar in adalah Prof. Kusharisupeni dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Dan Galapong Sianturi, MPH dari Direktorat Gizi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Sedikitnya hadir 250 peserta yangterdiri atas ASN, puskesmas, rumah sakit, dinas kesehatan Kabupaten/Kota, LSM, organisasi profesi kesehatan, mahasiswa dan akademisi, serta Tim Penggerak PKK.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis : Adinda (Pranata Humas Dinkes Babel)
Sumber : Dinas Kominfo
Editor : Irwanto
Fotografer : Adinda
Dibaca : 5.727 Kali