Tali Asih ASN Peduli Babel, Secercah Kehangatan Ditengah Duka Keluarga Reshansa

PANGKALPINANG — Suasana pagi itu, Selasa (17/4/2025), di sebuah pemukiman, tepatnya di Perumahan Taman Gandaria Mas 2, Pangkalpinang, terasa agak berbeda. 

Ada duka, yang masih menyelimuti keluarga almarhum Reshansa, seorang aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 

Namun, hadirnya rombongan ASN Pemerintah Provinsi Kepulauan Babel pagi itu, membawa sedikit kehangatan di tengah kehilangan mendalam, yang masih dirasakan keluarga Almarhum Reshansa.

Yang mana, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Fery Afriyanto, datang langsung memimpin rombongan perwakilan ASN Peduli Babel, untuk menyerahkan tali asih, kepada keluarga yang ditinggalkan. 

Kehadiran mereka pagi itu, bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga membawa pesan kebersamaan, bahwa keluarga almarhum tidak sendiri menghadapi masa sulit ini.

“Kami datang membawa salam dan kepedulian dari seluruh rekan ASN. Semoga ini bisa sedikit meringankan beban dan menjadi penguat bagi keluarga,” ujar Fery dengan nada penuh empati.

Di ruang tamu rumah duka, suasana berlangsung hangat namun penuh haru. Percakapan singkat diselingi doa, sementara keluarga menerima para tamu dengan rasa terima kasih yang mendalam.

Di lain sisi, Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Babel, Donny R., mengatakan bantuan yang diberikan merupakan hasil kebersamaan para pegawai, Korpri, serta Dharma Wanita Persatuan. 

Menurut Donny, solidaritas seperti ini menjadi bagian dari nilai kekeluargaan yang terus dijaga di lingkungan ASN.

“Ini bukan hanya tentang bantuan, tapi tentang rasa kebersamaan kami kepada keluarga almarhum,” kata Donny.

Fimelia, istri almarhum, tak kuasa menyembunyikan rasa harunya. Dengan suara lirih, ia menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan. Baginya, dukungan moral yang datang silih berganti menjadi kekuatan tersendiri bagi dirinya dan keluarga.

“Terima kasih atas perhatian bapak dan ibu semua. Kami merasa tidak sendiri. Mohon maaf jika semasa hidup suami saya ada kesalahan,” ucap Fimelia.

Di tengah duka yang belum sepenuhnya reda, kepedulian yang datang pagi itu menjadi pengingat bahwa di balik rutinitas birokrasi, masih ada rasa kemanusiaan yang hidup dan tumbuh, menjadi penguat saat salah satu dari mereka harus berpulang lebih dulu.

Penulis : Lulus
Sumber : Dinas Kominfo
Editor : Yudhistira
Fotografer : Jo Fandi
Dibaca : 6 Kali